25 September 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

FPBI dan Perkumpulan Lintas Alam Borneo Tolak Rencana Pengiriman Hiu Paus ke Ancol


FPBI dan Perkumpulan Lintas Alam Borneo Tolak Rencana Pengiriman Hiu Paus ke Ancol
Aktivis FPBI dan Perkumpulan Lintas Alam Borneo saat konferensi pers dihadapan wartawan (Foto: Dayat)

KLIKBERAU.COM- Forum Pemuda Bahari Indonesia (FPBI) bersama Perkumpulan Lintas Alam Borneo menyatakan keprihatinan terkait rencana translokasi hiu paus di Perairan Talisayan, ke lokasi yang bukan habitat lain di area Sea World Ancol di Jakarta.

Rencana itu menurut Ketua Perkumpulan Lintas Alam Borneo, Krisna, disebut masuk menjadi salah satu item Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Berau dengan PT Taman Impian Jaya Ancol, terkait pendidikan konservasi biota laut di wahana pendidikan di Sea World Ancol.

Dikatakannya, meski pendidikan konservasi biota laut sejatinya penting dilakukan, namun dapat diselenggarakan tanpa menempatkan satwa dalam risiko. Apalagi
Hiu paus adalah satwa yang dilindungi Undang-undang.

Alasan satwa itu dilindungi, karena tingkat reproduksinya yang sangat rendah. Dan di alam luas, hiu paus mengalami banyak tantangan. Yakni gangguan sampingan dari aktifitas pariwisata karena Hiu paus diketahui tidak berbahaya bagi manusia.

Meski bertubuh besar, hiu paus merupakan hewan laut yang jinak dan kadang membiarkan penyelam menungganginya, dan ini tidak dibenarkan dalam kaidah konservasi.

“Hiu paus merupakan hewan air yang melakukan migrasi, kami khawatir spesies ini akan mengalami stres berkepanjangan," ujar Krisna kepada Wartawan, Minggu (11/3).

Krisna juga mengatakan, gagasan untuk mengembangkan wisata konservasi satwa laut di PT.Taman Impian Jaya Ancol, justru agak kurang tepat. Asumsi sederhananya, jika para pengunjung sudah menyaksikan keunikan satwa tersebut di Ancol, maka serta merta wisatawan tidak akan tertarik lagi untuk datang ke Berau. Mengingat biaya akomodasi dan transportasi ke Jakarta yang lebih mudah untuk diakses.

"Hal tersebut bukan hanya berpotensi mengurangi pemasukan daerah, tapi juga pendapatan warga sekitar, seperti pedagang makanan dan penyedia jasa wisata," tambahnya.

Hal senada juga diungkapkan Ketua FPBI Berau Yudistira. Menurut dia hiu paus memiliki peran dan fungsi di alam, yang tidak dapat digantikan manusia. Bahkan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), telah memasukan hiu paus ke dalam status rentan (vulnerable). Selaku masyarakat pemerhati perlindungan satwa di Tanjung Redeb, ia pun merasa keberatan dengan rencana komersialisasi terhadap Hiu Paus dan beberapa satwa yang endemik dari Kabupaten Berau.

Menurutnya rencana tersebut sudah mencederai konsep pelestarian dan perlindungan satwa yang ada di alam liar. Dan mengatakan pengelolaan atau konservasi satwa secara Eksitu (diluar habitat aslinya) merupakan tindakan yang melanggar nilai dan prinsip konservasi.

"Kami selkau masyarakat pemerhati stawa liar di Kabupaten Berau meminta Pemerintah untuk membatalkan rencana kerjasama dengan Taman Impian Jaya Ancol, utamanya translokasi satwa liar ke aquarium di wahana rekreasi tersebut," ungkapnya.

Diketahui, perairan Berau memiliki luas 1,2 juta hektare, kaya dengan keanekaragaman hayati & biota laut. Terdapat beberapa macam jenis biota laut yang sudah dilindungi, diantaranya penyu, pari manta, kima, mamalia laut dan hiu paus.

Ini menjadi daya tarik yang luar biasa bagi turis untuk datang ke Berau. Sekaligus membantu Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor pariwisata.(*)

Reporter : M Hidayat    Editor : Zul Ihsan



Comments

comments


Komentar: 0