23 Mei 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Kersik Luway, Pesona Keindahan Alam di Pedalaman Kaltim


Kersik Luway, Pesona Keindahan Alam di Pedalaman Kaltim
Keindahan Alam Kersik Luway

KLIKBERAU.COM - Klikers, berwisata tak harus melulu mengunjungi pesona elok pantai berpasir putih atau sejuk udara pegunungan atau ngarai. Pun, menikmati panorama beserta mencari tahu seluk beluk sebuah daerah di tempat tak terjamah dapat menjadi pilihan.

Ya, misalnya Klikers dapat menemuinya di Cagar Alam Padang Luway, Desa Sekolaq Darat, Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur(Kaltim). Cagar alam ini merupakan hutan di ketinggian hingga 200 meter di atas permukaan laut dengan pasir putih seluas 20 hektare menghampar sampai jauh mata memandang.

Banyak spekulasi tentang keberadaan pasir putih di tengah hutan yang dalam bahasa Dayak Tunjung, Padang Luway lebih populer disebut Kersik Luway, pasir sunyi.

Kersik Luway adalah cagar alam di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kaltim. Di sini, wisatawan bisa melihat koleksi tanaman langka Indonesia seperti Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata) dan Kantung Semar (Nephentes).

Cagar Alam Kersik Luway berada di Kubar, tak jauh dari ibukota kabupaten yakni Sendawar. Dalam bahasa lokal, Kersik Luway berarti 'pasir yang sunyi'. Tak heran, letaknya memang di pedalaman Kalimantan.

Kersik Luway punya hamparan pasir yang ditumbuhi beragam tanaman langka seperti Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata) dan Kantung Semar (Nephentes). Wisatawan bisa mengeksplorasi cagar alam ini dan mencari beragam tanaman unik di dalamnya.

Penjaga hutan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kaltim, Didimus menuturkan dulu adalah lautan, namun perlahan menyurut. Teori lain mengatakan, pasir di hutan ini berasal dari letusan gunung berapi ribuan tahun silam.

Sudah pasti bukan spekulasi itu saja yang menarik untuk menyusup masuk ke dalam hutan ini. Sebelum semuanya bergerak terlalu jauh, Didimus setengah yakin berujar jika yang ditunjuknya adalah habitat anggrek hitam satu-satunya di dunia.

Pendar cahaya senja matahari yang membuat pasir berkilauan seperti menyembunyikan misteri, seperti ada seorang putri yang seksi sedang menunggu di kedalaman sana. Dan putri yang seksi itu malu-malu memperlihatkan tubuhnya.

Berjalan menyusup selang 30 menit di bawah pohon-pohon berenganyi yang rapat. Sunyi sekali, hampir-hampir tak terdengar suara burung atau hewan-hewan liar di hamparan hutan seluas 5.000 hektare ini.

“Sosoknya tak pernah terlihat, tapi ada jejak-jejak di pasir yang diperkirakan bekas jalan macan dahan. Macan dahan adalah maskot Kabupaten Kutai Barat,” jelas Didimus meyakinkan.

Hutan ini memang sunyi. Barangkali itulah cara alam menjaga sang putri seksi, bernama anggrek hitam (Coelogyne pandurata Lindl) agar tak terusik. Hidupnya tidak lama.

”Anggrek hitam hanya bertahan segar tiga hari, pada hari keempat sudah mulai layu,” kata Didimus.

Didimus memberi keyakinan jika sudah bertemu dengan anggrek layu, itu pertanda tak lama lagi kami akan diberi kesempatan ”bertamu” ke rumah ”si putri seksi” yang memang wisatawan cari. Setelah melewati setapak, di mana pasir putih menghampar, Klikers bakal masuk ke sebuah lubuk yang dinaungi rimbun pepohonan. Tepat di bawah pohon, daun-daun anggrek tampak bergerombol. Tak disangka ada sesuatu yang mencuat tetapi terhalang dedaunan.

Tangkainya yang hijau tampak begitu segar dan kokoh menyangga enam helai bunga. Dan kepingan-kepingan bunganya berkelok ritmis seperti melindungi putik yang menebar warna hitam. Jika didekati bunga ini menguarkan wangi yang unik, khas campuran aroma kesunyian pasir dan hutan. Hanya yang punya imajinasi yang bisa membayangkan keharumannya.

Hutan yang sunyi tiba-tiba seperti berubah menjadi taman firdaus, tempat seluruh keharuman dan kedamaian bersemayam. Sebuah hamparan taman penuh bunga, kawanan kantong semar seolah menyimpan air kehidupan dan mengusir serangga-seranggga pengganggu kedamaian. Habitat yang asri bagi 47 jenis anggrek hutan yang kini ada di Kersik Luway.

Selain si putri seksi anggrek hitam, di sini juga tumbuh anggrek yang tak kalah seksi, di antaranya anggrek tajuk tuan, anggrek tebu, anggrek bulu landak, dan teristimewa anggrek ratap tangis.

”Saat musim bunga, air seperti menetes dari putik anggrek jenis ini,” kata Didimus. (*)

Reporter : Ramadhan    Editor : Shanika Adella



Comments

comments


Komentar: 0